Merangkai Fakta dan Mengurai Mitos Hutan di Indonesia
![]() |
Kebayangkan betapa luasanya hutan yang dimiliki kita, sebab Indonesia memang mengalokasikan 120 juta hektare atau 64 persen dari luas daratannya sebagai Kawasan Hutan (KLHK, 2020). Sah-sah saja apabila takut terhadap hewan buas maupun tumbuhan beracun yang mungkin ditemui, tapi jangan sekali-kali mengaitkan mitos sebagai alasan kita untuk berhenti melakukan konservasi. Nah, teman-teman tau gak? sebuah mitos dan adat biasanya dibuat untuk menjaga hutan itu sendiri, misal:
- Warga Kampung Adat Kuta yang berada di Kabupaten Ciamis ini percaya bahwa tanah di wilayah Kuta adalah suci. Apabila mereka nekat menggali tanah itu sama dengan mengundang malapetaka. Termasuk jika menggali tanah untuk lahan pekuburan. Hal ini dapat dikaji dalam penjelasan ilmiahnya loh, sebab menggali di lahan kampung yang berlereng, akan menyebabkan bahaya longsor.
- Tradisi Nyabuk Gunung yang merupakan upaya untuk membuat lahan pertanian berundak-undak salah satu alasannya untuk mencegah terjadinya longsor. Oleh karena itu, dibuatlah pertanian dengan blok-blok pada lereng gunung, sehingga panjang lereng berkurang, kecepatan dan jumlah aliran air permukaan dapat berkurang, dan air hujan yang turun tertahan pada petak-petak pertanian sehingga meningkatkan penyerapan air di tanah.

Ilustrasi Tradisi Nyabuk Gunung. (Kompasiana.com/Putri Puspita) - Adanya pelestarian mitos untuk melindungi alam dari keserakahan manusia. Umumnya banyak mitos yang mengaitkan hantu dengan mendengar suara bayi menangis dalam hutan, hal tersebut merupakan suara alami dari Lyrebird (burung hutan yang banyak ditemukan di Australia); ada juga mitos yang menyatakan hutan bau bangkai berarti hantu berkeliaran, padahal hal ini dapat dilihat dari penjelasan ilmiahnya bahwa ada tumbuhan jenis Amorphophallus Tiatnium yang tumbuh di Indonesia.

Ilustrasi Amorphophallus Tiatnium
- Hutan Indonesia sebagai Paru-Paru Dunia
Fakta pertama yang mungkin telah kita ketahui sejak SD pasti “Hutan adalah Paru-paru Dunia”, tapi apakah teman-teman tahu bahwa enggak semua hutan bisa menjadi paru-paru dunia loh, sebab hutan yang dimasukan ke dalam kategori ini adalah hutan hujan tropis dengan areal terluas serta menjadi salah satu negara penyedia oksigen alami terbesar di dunia.
Ilustrasi Hutan Indonesia. (Sumber: Unsplash.com) - Hutan Indonesia Menyerap Emisi Karbon
Hutan dapat menyerap karbon karena hutan adalah tempat sekumpulan pohon yang memiliki aktivitas biologisnya seperti fotosintesis dan respirasi. Dilansir dari menlhk.go.id, sektor kehutanan memiliki porsi terbesar di dalam target penurunan emisi gas rumah kaca. Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai dimana tingkat serapan emisi GRK dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan pada tahun 2030 akan seimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi.
Grafik Penurunan Emisi Karbon di Indonesia. (Sumber: antaranews.com) - Punya Keanekaragaman Hayati yang Sangat Tinggi
Keanekaragaman hayati ini mencakup flora dan fauna yang tumbuh berkembang biak di hutan loh, hutan hujan tropis yang ada di Indonesia unik karena keanekaragaman spesies flora fauna yang terdapat di dalamnya. Jumlah spesies pohon yang ada di daerah hutan hujan tropis lebih banyak daripada spesies pohon di daerah lainnya. Oleh karena itu, pantas hutan Indonesia menyandang gelar #HutanKitaSultan
Ilustrasi Rangkong Badak. (Sumber: Unsplash.com) - Berkontribusi Besar dalam Menstabilkan Iklim dan Cuaca Global
Hutan memberikan manfaat iklim lebih dari sekadar menyimpan karbon, membantu menjaga udara tetap sejuk dan lembab pada jarak dekat maupun jauh. Pasalnya, hutan memiliki kemampuan cara mengubah energi dan air secara fisik. - Sebagai Apotek Alami dan Tempat Tumbuhnya Tanaman Obat
Hutan yang memiliki keanekaragaman hayati dapat dijadikan alasan untuk tumbuhnya berbagai macam tanaman yang memiliki fungsi pengobatan dan kebugaran, seperti: rumput balsem yang bermanfaat menghilangkan lelah dan membuang angin. Ada juga tapak liman, untuk mengobati sakit perut maupun bisul. Juga cakar ayam bisa jadi ramuan obat penyakit paru-paru dan sejenisnya.
Ilustrasi Daun Tapak Liman. (Sumber: sehatq.com)
Dikutip dari wri-indonesia.org/ menyatakan bahwa “Data kehilangan tutupan pohon tahun 2015 yang diolah oleh Laboratorium Global Land Analysis & Discovery (GLAD) dari Universitas Maryland, menunjukkan bahwa kehilangan tutupan pohon di Indonesia tetap tinggi antara tahun 2001 dan 2015. Kehilangan tutupan hutan di Indonesia meningkat tajam di tahun 2012, yakni seluas 928.000 hektar (2,3 juta acre). Angka ini kemudian turun secara signifikan pada 2013 dan kemudian meningkat kembali pada 2014 dan 2015, yakni masing-masing seluas 796.500 hektar (2 juta acre) dan 735.000 hektar (2,8 juta acre)”. Faktanya, 3 ancaman besar yang ada di hutan Indonesia, terdiri dari:
- Deforestasi atau Penggundulan Hutan
Deforestasi atau penggundulan hutan merupakan kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nonhutan, seperti pertanian dan perkebunan, peternakan, atau permukiman.
Ilustrasi Deforestasi. (Sumber: Geotimes.id) - Habitat dan Populasi Terancam
Akibat dari deforestasi demi kepentingan manusia, flora & fauna pun terancam keberadaannya. Maka, tak jarang beberapa hewan liar turun ke pemukiman warga untuk mencari makanannnya sendiri, sebab apa yang telah disediakan hutan untuk hidupnya malah tiada.
Ilustrasi Poupulasi Orang Utan yang Terancam. (Sumber: Merdeka.com) - Penggunaan Kertas Berlebih

Ilustrasi Penggunaan Kertas Berlebihan. (Sumber: Hanalfa.com) Skripsi diminta hardfile agar mudah dibaca kemudian revisian menumpuk berarti banyak kertas yang terbuang untuk mencetak draft skripsi, hal ini merupakan salah satu dari sekian banyaknya penggunaan kertas berlebihan. Kenapa mengancam keberadaan hutan? sebab kertas dibuat dari getah pepohonan di hutan, permintaan akan kebutuhan kertas yang tinggi akan berakibat pada penebangan pohon dalam jumlah banyak.
- Reboisasi dan Adopsi
Reboisasi adalah salah satu alternatif untuk melestarikan hutan dengan penanaman kembali hutan yang telah gundul. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan hutan dan untuk mencegah terjadinya erosi, tanah longsor maupun banjir.
Kalian tinggal diperkotaan ataupun sibuk dengan kegiatan lain dan tidak memungkinkan melakaukan reboisasi di hutan? bisa bergabung ke dalam #TeamUpforImpact. Di sini, kalian akan mengerjakan misi yang berbeda setiap harinya, salah satunya di hari Senin ada misi “Bangga Makanan Lokal”. 1.400 poin yang dikumpulkan sama dengan satu pohon yang akan ditanam atas nama kalian di hutan. Menarik sekali 'kan? kita hanya memakai gawai maupun PC, tapi dapat berkontribusi sebesar ini..png)
.png)
Selanjutnya, perihal adopsi adalah kegiatan yang digagas oleh hutanitu.id untuk memiliki pohon yang ditanam di hutan, tanpa harus pergi ke hutan. Kita semua tahu, bahwa suatu kegiatan pasti membutuhkan dana untuk keberlangsungannya. Oleh karena itu, berapapun nominalnya tetaplah berharga. Teman-teman yang berniat untuk adopsi, bisa langsung mengunjungi website ini ya https://hutanitu.id/donasi/pg/adopsihutan kemudian pilih menu yang nanti akan muncul seperti ini: - Menerapkan Sistem Tebang Pilih
Sistem tebang pilih ini dilakukan untuk memilah mana pohon yang umurnya lebih tua, juga memberi jarak penebangan pada tiap pohon. Sistem tebang pilih ini juga harusnya diiringi dengan sistem tebang tanam agar kelangsungan hidup pohon terjaga. - Mengurangi Penggunaan Kertas Berlebih
Bahan baku kertas dari sebatang pohon dan untuk satu rim kertas saja paling sedikit memerlukan setidaknya satu batang pohon ditebang. Dengan menekan penggunaan kertas, penebangan pohon akan berkurang. Langkah kecilnya dengan membiasakan dokumen softfile maupun gunakan kertas semaksimal mungkin tanpa membuangnya, bisa didaur ulang juga kok. - Tidak Membuang Sampah Sembarangan di Hutan
Sampah yang dibuang di hutan akan membuat hutan menjadi kotor. Apalagi membuang puntung rokok, lebih berbahaya lagi jika puntung rokok yang belum mati benar dibuang di hutan, maka dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. - Bergabung dengn Komunitas Peduli Hutan
Era sekarang, banyak komunitas hutan yang terbentuk oleh orang-orang atas kepentingan yang sama, yakni: menjaga bumi. Salah satu organisasi yang diikuti oleh aku dan dapat diikuti anak muda hari ini adalah Kepramukaan yang terhimpun dalam Satuan Karya Wanabakti.
Wana artinya hutan, jadi Saka Wanabakti berarti bakti kepada hutan, ini merupakan Satuan Karya dalam Gerakan Pramuka Indonesia yang memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan khusus di bidang kehutanan dan lingkungan hidup serta menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab dalam mengelola sumberdaya alam. Ruang lingkup materinya meliputi pengelolaan hutan, pemeliharaan hutan dan sumber daya alam, penyelamatan hutan dan lingkungan hidup, dan pemanfaatan hasil hutan bagi masyarakat.
Ilustrasi Pengambilan Benih Pohon untuk Ditanam. (Dokumentasi SWB Ciamis) - Kampanye, Knowladge, dan Perubahan Perilaku Sosial
Ada banyak sekali kampanye perlindungan dan pelestarian hutan yang digagas oleh orang-orang hebat, salah satunya yang digagas oleh hutanitu.id juga Laleilmanino ft Chicco Jerikho, Hivi!, Sheila Dara yang telah menciptakan alunan lagu merdu dengan judul “Dengar Alam Bernyanyi”, penggalan indah dari lirik #DengarAlamBernyanyi yang menginspirasi aku untuk menulis ini adalah:
Bila kau jaga akuKujaga kau kembaliBerhentilah mengeluhIngat, kau yang pegang kendaliKau yang mampu obatiSudikah kau kembali?
“Sudikah kau kembali?” dengan mendengar lagu ini, kita juga turut berdonasi karena sebagian royalti akan disumbangkan untuk untuk perlindungan hutan Indonesia. Kita dapat mendengarnya di platform musik seperti Spotify dan Apple Music, selain itu kita juga bisa menonton video clip nya di sini ya https://youtu.be/lmKBZ8Wo6Ds
"Ketika pohon terakhir ditebang,Ketika sungai terakhir dikosongkan,Ketika ikan terakhir ditangkap,Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang”
― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World
Admin., 2020. Kenali 3 Fakta Menarik Keberadaan Hutan Hujan Tropis. [online] hutanitu.id : https://hutanitu.id/kenali-3-fakta-menarik-keberadaan-hutan-hujan-tropis/ [Diakses pada 10 Agustus 2022].
Anugrah, N., 2022. Sosialisasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030: Peran Besar Sektor Kehutanan Dan Penggunaan Lahan Lainnya Pada Pemenuhan Target Penurunan Emisi. [online] menlhk.go.id : https://www.menlhk.go.id/site/single_post/4849/sosialisasi-indonesia-s-folu-net-sink-2030-peran-besar-sektor-kehutanan-dan-penggunaan-lahan-lainnya-pada-pemenuhan-target-penurunan-emisi [Diakses pada 11 Agustus 2022].
Arifin, N., 2018. Bagaimana Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia di Masa Depan?. [online] goodnewsfromindonesia.id : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/12/bagaimana-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia-di-masa-depan [Diakses pada 11 Agustus 2022].
Nurofiq, H. F. dkk,. (2020). Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2020. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Oktapani, M., 2017. Pelestarian Hutan dan Hubungannya dengan Kertas. [online] Qureta.com : https://www.qureta.com/post/pelestarian-hutan-dan-hubungannya-dengan-kertas [Diakses pada 11 Agustus 2022].
Ramadhani, S., 2022. Hutan Kalimantan: Ciri-ciri, Fakta Menarik dan Permasalahan. [online] lindungihutan.com : https://lindungihutan.com/blog/hutan-kalimantan/#rb-3-fakta-menarik-hutan-kalimantan [Diakses pada 12 Agustus 2022].
Septyan, RA., 2022. Hutan Konservasi: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Peraturan. [online] foresteract.com : https://foresteract.com/hutan-konservasi-pengertian-fungsi-jenis-dan-peraturan/ [Diakses pada 10 Agustus 2022].
Wijaya, A, dkk., 2017. 6 Tahun Sejak Moratorium, Data Satelit Menunjukkan Hutan Tropis Indonesia Tetap Terancam. [online] wri-indonesia.org : https://wri-indonesia.org/id/blog/6-tahun-sejak-moratorium-data-satelit-menunjukkan-hutan-tropis-indonesia-tetap-terancam [Diakses pada 11 Agustus 2022].
Zulfikar, F., 2021. Daftar Negara Paru-Paru Dunia yang Menjaga Iklim Bumi, Indonesia Termasuk?. [online] detik.com : https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5803351/daftar-negara-paru-paru-dunia-yang-menjaga-iklim-bumi-indonesia-termasuk [Diakses pada 10 Agustus 2022].

.png)
Komentar
Posting Komentar